My introvert story: Dilema pada diri sendiri [Part 1]

Halo Halo…🙂

Sekarang saya sudah semester 6 ^^ Gak kerasa, kuliah bisa secepat itu.

Tapi, semakin ke sini, saya semakin mikir tentang bagaimana nanti hasil dari semester ini dan semester depan? -____- Tugas di semester ini tidak sedikit alias banyak. Dan semua itu membuat saya merasa sangat menyia-nyiakan waktu😦

(nulis ini juga menyia-nyiakan waktu xD)

Sebenarnya yang bikin saya kepikiran dengan semester ini, selain banyaknya tugas yg diberi sama dosen juga sama tugas yang berkelompok😦. Bukan karena masalah anggota kelompoknya, justru saya mendapatkan teman-teman kelompok terbaik. Mulai dari kelompok besar sampai kelompok kecil semuanya hebat-hebat. Bahkan saat dibentuk kelompok yang lebih kecil lagi, yang terdiri dari 2 orang saja, saya berpasangan dengan salah satu orang terbaik di kelas.

Masalahnya adalah ketika kelompok sedang mengerjakan tugas atau sedang diskusi, yang bisa saya lakukan hanya diam. Pfffft sangat menyedihkan sekaligus memalukan😦. Bahkan ketika seorang teman tiba-tiba melontarkan pertanyaan, saya langsung BLANK begitu saja. hiks… pengalaman tiap kali ditanya secara tiba-tiba, otak saya langsung kosong seketika. Entah apa yang terjadi. Aneh saja ketika tiba-tiba ditanya serasa seperti seorang penjahat sedang dibekuk, atau serasa terdakwa sedang dihakimi. Dan habis saya serasa ingin kabur dan menghindar dari orang-orang.

Pernah juga suatu hari saat perkuliahan di kelas. Dosen menyuruh kita untuk belajar sambil duduk lesehan di ruang kelas. Sepanjang perkuliahan saya hanya terdiam, bahkan saat teman-teman mengajukan pertanyaan kepada dosen, saya tetap diam dan tidak mengatakan sepatah katapun, seriously. Mungkin karena saya merasa tidak mengerti dengan materi yang dipaparkan oleh dosen, persisnya seperti itu hahaha. Tetap diam bahkan saat dosen meminta umpan balik ‘apakah kita sudah mengerti atau belum?’. Setidaknya saya tetap berusaha memperhatikan apa yang dibawakan oleh dosen, paling tidak saya bisa menyerap informasi sebanyak yang saya bisa supaya gak terlihat bego-bego amat xD.

Kuliah sudah berjalan lebih dari satu jam dan saya masih diam. Tapi pas Ririn dan Hilda ngebahas tentang drama Korea ‘Emergency Couple’…… heol! daebakk akhirnya saya yang asli keluar ㅋㅋㅋ. Saya ngomong kayak yang paling tahu tentang korea-korea hahah. Like there is no one can stop me kalo udah ngomongin tentang Korea. Bahkan tanpa peduli situasi dan kondisi saat itu, secara kalap saya juga menceritakan pada mereka kalau pemeran utama cowoknya itu yang jadi kakaknya Kim Tan di ‘The Heirs’, dan Song Jihyo adalah favorit saya di Running Man, dan Jihyo sama Gary adalah Monday Couple di Running Man, dan salah satu episode favorit saya di Running Man itu episode 63, dan di episode 63 Jessica gantiin posisinya Jihyo jadi couplenya Gary, dan Jessica sama Gary di panggil stress couple.

Yang gue heran, kenapa otak saya tidak se kritis seperti itu saat sedang berdiskusi atau dalam perkuliahan?

Aneh….

Ya….

Aneh memang…:/

Saya sering mengalami hal seperti ini. Hal seperti saya hanya berbicara ketika menyangkut sesuatu hal yang saya tahu atau yang saya suka, dan saya akan benar-benar diam ketika tidak tahu atau tidak tertarik dengan topik yang dibicarakan. Sama juga ketika bergaul dengan orang lain, ketika bersama dengan orang yang tidak terlalu akrab saya biasanya hanya diam dan berbicara seperlunya, tapi ketika bersama orang-orang yang sudah akrab saya akan menjadi lebih cerewet dari biasanya.

Saya juga heran ketika waktu itu ditugaskan jadi moderator dan terakhir disuruh buat komentar tentang presentasi hari itu, saya tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa saya tidak bisa memberi komentar? ya, tidak seperti ketika saya memberi komentar untuk album Mr.Mr. fiuhh

WHAT THE HELL…..? saya bingung dengan diri saya sendiri dan sepertinya ada yang salah dan harus diperbaiki:/

Seiring bertumbuh semakin tua dewasa, rasa bingung itu sering muncul. Diri saya dipenuhi kontradiksi yang membingungkan. Kadang bisa begitu hidup dan banyak berbicara, apalagi kalau hal itu adalah hal yang saya tahun dan sukai. Tapi kadang saya mau bicara tapi saat itu pikiran benar-benar kosong.

Seperti waktu masuk lab dimana waktu itu kita akan ditunjuk satu persatu untuk tampil di depan teman-teman sambil menghafal ——- (saya lupa menghafal apa -__-“). Pokoknya saya sudah matian-matian menghafal sebelum masuk lab, dan begitu bersemangat untuk tampil. Tapi begitu dosen manggil nama saya, tiba-tiba pikiran saya kosong, materi yang sudah saya hafalin dari kosan hilang semua >,< “aigoo, tendang saya ke Korea sekarang plissss” *batin saya*. Setelah menarik nafas dalam berkali-kali dan mendapat semangat dari teman-teman yang waktu itu ada juga di lab (mungkin mereka tahu saya benar-benar gugup waktu itu) akhirnya saya selesai juga menghafal di depan walaupun dengan suara tidak jelas dan terputus-putus dan dosen menyuruh saya untuk belajar lagi. It was so embarrassed! >.<

Saya jadi ingat kalo tahun lalu saya sempat beli buku Psikologi yang dalamnya ada tes kepribadian. Dan buku itu bilang kalau saya seorang penyendiri di antara orang-orang yang sedang berkumpul. Sosok yang tenang di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Sosok yang terlihat serius di tengah keadaan yang tenang. Sosok ini berbeda, tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah anti-sosial, hikikomori, pemalu ataupun seorang yang berpenyakit

Saya adalah seorang…..

 “INTROVERT”

to be continued……🙂


One thought on “My introvert story: Dilema pada diri sendiri [Part 1]

Leave a comment? Don't be a silent reader :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s